Total Pageviews

Showing posts with label Korea. Show all posts
Showing posts with label Korea. Show all posts

Tuesday, February 4, 2014

Balikpapan: 5 Alasan untuk Mencintai (dan Mengasihani) Kota ini

It's a gift, as I may say, to be born in this small city... (mungkin sekarang ia telah berubah menjadi salah satu kota besar yang berkembang pesat)

Kota Balikpapan
Sumber: Skycrapercity


Howdy, Balikpapan? It has been 10 years since the last time I left this city. Sebelumnya, saya lahir dan besar di sana, sampai akhirnya lulus dr SMP, saya memutuskan "hijrah" demi pendidikan yang lebih baik.

Should I say about this...?Mungkin ini adalah salah satu kelemahan kota ini, dan mungkin juga kota2 lainnya di Kalimantan...sebagai anak daerah, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri betapa tertinggalnya pendidikan tinggi di kota ini dibanding di pulau Jawa...dan ketiadaan institusi pendidikan yg setara itulah yg akhirnya memaksa saya utk pindah ke Bandung. This is a sad reality...tapi semestinya pihak Diknas Balikpapan dan PemKot sudah menyadari, dan mulai mencari solusi utk meningkatkan kualitas pendidikan buat anak daerah.

However, despite of that, Balikpapan is just what most of Indonesian people really dream of...

1. Balikpapan is the real deal for multinational oil company n stuff! Klo soal kekayaan alamnya, KalTim jgn ditanya...Di Balikpapan, kamu bisa melihat para ekspat nyaris sama banyaknya sama di Ibukota. Kmu bisa temuin berbagai macam perusahaan asing (mostly oil n gas n service company) berseliweran bak cendawan di musim hujan. Balikpapan dari dulunya emg dikenal sebagai "kota Minyak", bukan karena di Balikpapan ada lapangan minyak sebenarnya, tapi segala pusat aktivitas perminyakan seperti pusat penyulingan Pertamina ada di kota ini. Ga heran taraf hidup di Balikpapan setinggi langit. Kota ini bener2 jual jasa, dibanjiri pendatang ribuan dari pulau Jawa, n ngasi standard kerja yg tinggi. Banyak yang senang, tapi banyak juga yang mengeluh. Contoh nyatanya: angka pengagguran yang bertambah dari tahun ke tahun (http://www.balikpapanpos.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=97411).

Kilang Minyak di Balikpapan
Sumber: msudarmanfiles.wordpress.com
 2. Balikpapan is unarguably one of the cleanest cities in Indonesia. Well, you know why. Dengan 15 raihan Adipura sampai tahun 2013 lalu, saya cuma bisa geleng2. Dari zaman saya baru bisa merangkak, kota ini sudah membanggakan dari segi kebersihan kotanya. Saya masih ingat masa ketika walikota Balikpapan masih Tjutjup Soeparna, lalu Imdaad Hamid, dan akhirnya sekarang Rizal Effendi...Balikpapan sangat-sangat menjaga kredibilitasnya yg satu ini (catatan: dengan sangat-sangat ketat). Ketika Jakarta masi mimpi dengan Ciliwungnya yg mampet karena sampah, atau Bandung yang dijuluki "The City of Pigs" http://venusgotgonorrhea.wordpress.com/2014/01/16/bandung-the-city-of-pigs/, Balikpapan lebih dari 20 tahun yg lalu sudah memiliki komitmen utk menjadi yg terbersih dr yg terbersih.

Predikat kota terbersih ke-2 di Asean pada tahun 2011 katagori clean land juga diraih, membuat siapapun yg mengetahuinya berdecak kagum. Nyatanya, mungkin karena tinggal di Balikpapan inilah, saya jadi sadar betul pentingnya menjaga kebersihan. Sejak SMP saya berkomitmen tidak akan pernah buang sampah sembarangan lagi. Kebiasaan ini sy bawa ketika hijrah di Bandung...ga peduli betapa "apatis"nya lingkungan di sekitar saya soal kebersihan. Yang lbh membahagiakan, ketika saya tinggal di Seoul, ibukota Korea Selatan yg sudah sangat maju ini ternyata tidak lebih bersih dari kampung halaman saya. Apalagi ketika malam tiba, tumpukan sampah masih bisa terlihat di beberapa sisi jalan (walaupun tidak parah dan sampai dibiarkan menumpuk lama2 seperti yg biasa kita lihat di kota2 di Indonesia).

Waduk Manggar
Sumber: http://green.kompasiana.com


Is that the end? NO. Balikpapan pernah dua kali gagal meraih piala Adipura. 2008 dan 2011. Semestinya itu jadi bahan introspeksi yg benar2 dipikirkan.Dan sekarang, ancaman banjir makin jadi anggapan "biasa", padahal dulu tidak pernah begitu...Hati-hati, semua itu berawal dari seseuatu "yang dibiasakan".

3. Balikpapan is like from another planet. Semua tahu ibukota Kaltim bukan Balikpapan. Semua tahu Balikpapan hanyalah kota kecil di pinggiran Borneo. Tapi kota ini tidak pernah mengajarkan saya ttg kemacetan. Tidak pernah mengajarkan saya ttg kerusuhan. Hidup di Balikpapan seperti hidup di suatu wilayah yang damai, tertib, dan hebatnya, sangat menenangkan. Pusat kotanya kecil, ke mana-mana dekat, dan walaupun pusat hiburan terbatas di kota ini, saya bisa menghabiskan 14 tahun hidup saya tanpa harus merasa bosan. Ruang hijau terbukanya sangat diperhatikan, hutan kotanya dijaga.

Cuma saya agak khawatir dengan perkembangan terakhir yang saya dengar...dengan makin tumbuhnya bangunan2 tinggi dan maraknya industri properti di Balikpapan. Sampai kapan infrastruktur jalan yang ada (yang sangat terbatas) bisa menampung laju bertambahnya kendaraan? Macet sudah mulai terasa nampaknya...terutama di Jl. Ahmad Yani...apalagi di TelagaSari isu longsor makin jadi momok yang bisa jadi bumerang kapan saja. Pemkot semestinya harus lebih memutar otak untuk merencanakan tata ruang yang berkelanjutan...ga hanya bicara satu periode kepemimpinan saja, tapi 20 sampai 50 tahun ke depan. Saya agak terganggu dan merasa "sedikit" meradang ketika mendengar di Balikpapan di bekas Puskib akan dibangun sebuah Supermal oleh Pemprov Kaltim...Saya tahu itu adalah daerah rawan banjir, saya tahu itu lambat laun akan mengakibatkan kemacetan yang parah jika tidak segera ditindaklanjuti. Saya tahu warga Balikpapan termasuk DPRDnya sebenarnya menolak keras. Saya sedih, karena saya termasuk yang menyadari betapa efek sampingnya untuk jangka panjang sangat-sangat memprihatinkan.

 4. Balikpapan, kota yang sarat prestasi. Selain kebersihan, tata ruang dan ketertiban lalu lintasnya juga menjadi langganan penghargaan. Pada 2013 yang lalu saja, Balikpapan berhasil memboyong 4 penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup (http://balikpapanpos.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=93751). Sayang beribu sayang, Balikpapan memang miris, sering menjadi anak tiri di KalTim sendiri. Akhir2 ini konflik antara Pemkot Balikpapan dan Pemprov KalTim makin marak saja. Mulai dari diputusnya anggaran cuma jadi 100 miliar, pembangunan Supermal yang penuh prokontra, sampai akhirnya wacana pengubahan nama bandara Sepinggan oleh Pak Gubernur Awang Faroek (http://www.beritasatu.com/nusantara/161088-warga-tolak-perubahan-nama-bandara-sepinggan.html).

Seumur2, saya baru mendengar adanya penolakan besar2an seperti ini: suatu hal yang di satu sisi menunjukkan betapa kompaknya warga kota Balikpapan...tapi di sisi lain menjadi masalah baru karena pihak Pemprov yang (menurut saya) berusaha memaksakan kehendaknya lewat hal2 yang (menurut saya) tidak urgen sama sekali. Apakah jika nama Bandara Sepinggan tidak diganti lantas Pemprov akan rugi triliunan rupiah dan bangkrut? Sampai sekarang saya masih bingung dan tidak habis pikir...bukan berarti itu bukan usulan yang baik, tetapi cara Pak Gubernur itu yang saya tidak suka. Jika rakyat memang menolak, ya sudahlah...Mengapa harus dipaksa dan memaksa? Masih banyak masalah lebih penting yang seharusnya menjadi perhatian bersama..seperti pendidikan, lapangan kerja, dsb dst...

5. The most important thing of all: Please appreciate the man behind the gun. Kunci sukses Balikpapan?entahlah. Saya bukan pakar perkotaan. Tapi saya tahu alasan utamanya adalah warga Balikpapan yang juga mencintai kota ini. Saya ga akan bilang 100% seluruh penduduknya sadar dan mau membuang sampah pada tempatnya misalnya..tapi gaung dari orang2 yg peduli ttg kebersihan itu jauh lbh terdengar di Balikpapan. Pemkotnya, warganya, dan media lokalnya, semuanya kompak untuk terus mempertahankan Adipura sampai kapanpun. Inilah yang membuat saya sangat-sangat mencintai kota saya.

"Beriman" bukan hanya motto. "Kubangun, kujaga, kubela" bukan hanya kata picisan di brosur dan koran2, tapi berakar di budaya masyarakatnya.

::Bagaimana menurut teman-teman?Apakah teman-teman pernah berkunjung ke Balikpapan?Bagaimana kesannya?Apakah teman-teman punya pendapat tentang tantangan Balikpapan ke depan?Jangan ragu buat kasi komentar ya :) Terima kasih!!




Thursday, December 26, 2013

When our "life" are abruptly taken away (in Jakarta traffic jam) part 2: Korea insight

Sy tidak tahu kpn persisnya sy mulai bermimpi untuk datang ke Korea.

Singkatnya, well, impian itu terwujud ketika sy duduk di semester 8 di teknik kimia ITB, hasil dari sekelumit perjuangan utk mendaftar beasiswa S2. Dgn latar belakang orang teknik yg hidup di Bandung 7 tahun lamanya, satu-satunya pengalaman spektakuler sy dengan transportasi umum adalah "angkot". Angkot merajai hampir di setiap sudut kota kembang, dan sy masih terbata-bata dlm mengingat rute2nya sampai sekarang. Hidup sy di Bandung, kemampuan sy menghafal penjuru kotanya, dan keberanian sy berpetualang di dalamnya, sangat dipengaruhi oleh jalur angkot dan supirnya.

Pernah ketika sy memutuskan utk nae angkot dr depan BIP menuju kosan sy, sopir angkot Dago-Kalapa yg saya naiki harus berjibaku dan menunjukkan kemampuan luar biasanya utk memotong lalu lintas yg macet, mencari celah utk melarikan diri dr kejaran mobil polisi karena menolak ditilang. Sayangnya, adegan kejar-kejaran ala action movie itu terjadi tepat di hari ulang tahun sy.

Bandung dan angkotnya, tidak akan pernah sy lupakan dr sejarah hidup sy. Bandung yg macet krn limpahan org dr Jakarta dan sekitarnya setelah dibukanya tol Cipularang, Bandung yg hingar-bingar dan semrawut.

Pengalaman sy yg lain berasal dari ingatan masa kecil sy, ketika sy lahir dan besar di sebuah kota kecil bernama Balikpapan, Kalimantan-Timur. Balikpapan, di ingatan saya adalah sebuah kota dimana macet adalah istilah yg tidak pernah ada dalam kamusnya. Angkutan umum yg ada di kota itu dikenal dengan sebutan "taksi", yg wujudnya ternyata sama dengan "angkot" yg ada di kota Bandung. Namun, perbedaan besarnya adalah taksi di Balikpapan yg cenderung sepi dan tidak sesemrawut yg ada di kota kembang itu. Sy pikir populasi juga memiliki pengaruh besar. Ketika sy tinggal di sana, penduduk Balikpapan tidak sampai setengah juta jiwa (sy krg tahu kalau sekarang). Sy baru tahu kereta api ketika sy bepergian ke Jawa. Kereta api sudah sgt umum digunakan oleh penduduk di pulau Jawa untuk bepergian ke luar kota. Relnya sj sudah ada sejak zaman Belanda.

Well, ketika sy memutuskan utk berhijrah ke Bandung sejak SMA, sy sempet shock dgn betapa padatnya dan semrawutnya kota Bandung. Sy yg cuma anak daerah, terbengong-bengong dgn kinerja sopir angkot di Bandung yg cenderung ugal-ugalan dan tukang ngetem. Jauh lebih bermartabat supir "taksi" di kota asal sy sejujurnya. Setelah 7 thn menjadi warga kota kembang, sy akhirnya berkesempatan utk menjadi warga kota paling padat di Korea, Seoul.

Dan inilah yg menjadi batu loncatan yg paling mengguncang hati nurani serta pengetahuan sy ttg bgmn seharusnya kota dengan transportasi umum yg baik itu, hahahaha.

1. Sy ga pernah menyangka kalau sistem kereta itu bs menjadi tranportasi umum yg efektif dari dan menuju airport. Hal ini baru sy sadari ketika sy tinggal di Seoul. Sejak hr pertama sy menginjakkan kaki di Incheon airport, sy otomatis membandingkan airport Soetta dengan airport Incheon. Lebih gilanya, ketika sy datang, ada tulisan di spaduk besar2 di salah satu dinding airportnya "Welcome to Incheon International Airport, the World's best airport for 5 consecutive years" lalu ada embel2 Skytrax.

Sy bener2 takjub. WHAT? Beneran ni?? The best airport in the world? Sudah sejauh apa airport Soetta ketinggalan ma airport di Korea ini?

Katanya merdekanya cuma beda 2 hari ya, Indonesia ma Korsel. Hehehe (ketawa miris).

Maafkan kalau sy pada dasarnya udik, tp kadang sy bangga dengan kedaerahan sy. Sy seumur2 ke luar negeri waktu itu cuma buat umrah. Tapi bahkan airport di Jeddah dgn di Incheon sudah kalah jauh. Dr terminal kedatangan setelah melalui imigrasi, sy diantar pake kereta bawah tanah menuju pengambilan bagasi. Sy langsung terbengong-bengong tapi takjub. Airportnya segede apa sih? Niat amat ya cuma di airportnya pake kereta segala...Wah, ya bener aja kali titel the best airportnya kalau fasilitas airportnya aja uda kaya gini.

Setelah itu, sy mengambil bagasi sy, keluar, dan dijemput oleh slah satu teman lab saya. Kami berdua memutuskan untuk naik kereta dr Bandara Incheon menuju Seoul. Perjalanannya cukup panjang, sekitar 1.5 jam. Pemandangan dari dalam kereta sungguh2 mencengangkan. Karena bandaranya ada di sebuah pulau, dan Seoul sendiri ada di daratannya, kebayang betapa niatnya pemerintah Korea membangun jalur kereta dr pusat kota ke sebuah pulau terpencil. Sy lagi2 baru ngeh klo ternyata kereta itu bs dijadiin transportasi yg keren bgt buat nganterin orang dari dan ke bandara. Lagi2, sy mencatat kenyataan ini dlm hati. Kapan Indonesia, kapan Indonesia?

Jalur kereta bawah tanah dari Incheon International Airport yang terintegrasi dengan Seoul metro line
2. Kejutannya belum selesai sampai di sana. Belum habis kekaguman sy dgn airport railroadnya bangsa Korea, kami harus transfer dr jalur aiport menuju Seoul metro line 6, yg menuju ke stasiun dekat tempat tinggal kami, Sangwolgok station. Singkatnya, perjalanan sejauh itu diakhiri tanpa harus menyentuh kendaraan roda empat sama sekali! Saya sampai di dormitory dengan perasaan campur aduk, bahkan sy lupa kalau hari itu sy lagi shaum ramadhan, cuma sempat tidur sejam di pesawat, dan lelah setgh mati sehabis perjalanan berlarut2 (karena mesti transit dulu di Kuala Lumpur). Dan sy baru menyadari kalau ternyata kereta itu bisa sekeren dan seefisien ini kalau dijadiin transportasi umum dalam kota!! Kalau ngomongin betapa terintegrasinya sistem Seoul metro, sy harus berkata bahwa Seoul adalah salah satu kota dengan sistem transportasi umum paling nyaman di dunia! Ini kenyataan yg luar biasa membanggakan, bahkan bagi bangsa Korea sendiri.

Metro Seoul luar biasa nyaman, tepat waktu, tersedia dalam 4 bahasa (Korea, English, China, Japan), dan stasiunnya hampir ada di mana2, layaknya rute angkot Bandung. Pengalaman sy menjelajah di Seoul dan Korea sgt tergantung pada jaringan metro dan keretanya. Dan sy tidak pernah mengenal kata "macet" itu di sini, di sebuah ibukota yg paling padat penduduknya di Korea (10 juta jiwa), selama 2 tahun sy berinteraksi dengannya.

Jika sy ingin bepergian, yg harus sy lakukan adalah mengecek smartphone. Aplikasi metro subwaynya sudah sangat canggih shingga kita bisa tahu jam kedatangan dan posisi kereta, serta jalur paling cepat yg bisa kita lewati hanya dengan sekali klik. Jarak asrama sy dengan stasiun kereta paling dekat tidak sampai 300 m. Dan dari sana, sy dapat berkeliling ke mana saja di Seoul dgn kereta api bawah tanahnya yg sgt2 terpercaya dan aman.

What more I could wish for?

Hanya dgn dua keunggulan tadi, cara pandang sy ttg suatu kota bisa berubah drastis. Hanya dgn kenyamanan di sistem transportasi umumnya sj, sy bisa bilang sy ingin tinggal di Seoul selamanya. Ketika cerita ini dimulai, sy belum pernah merasakan tinggal di Jakarta. Dan ketika sekarang sy sudah menjadi warga Jakarta, sy selalu berdoa agar Jakarta dapat menjadi seperti Seoul.

Makanya sy bahagia, super bahagia ketika akhirnya kebiajakan monorel ma MRT itu jebol juga di tangan pemprov DKI sekarang. Seneng bgt, akhirnya ada juga secercah harapan utk mengoperasi "kemacetan" Jakarta langsung dr sumbernya: reduksi para pengguna kendaraan motor pribadi.

Yah, percaya aja dah. Contohnya aja uda jelas bgt di depan mata. Semua negara maju uda pake sistem itu. Kitanya kok masi nyantai2...huff... 

Sy yakin, kita bisa kok.Tinggal bersabar dan tetap dukung program yang sedang berjalan. Semoga semuanya emang lancar dan pada akhirnya negara ini bisa lebih bermartabatlah ibukotanya :)





Thursday, August 1, 2013

#16 Day-38: Tour guide on the go!

Mulai hari ini, saya resmi menjadi tour guide dadakan untuk Bu Ina, seorang istri yang ramah dan baik hati yang kebetulan suaminya sedang dinas di Korea. Kecintaan Bu Ina dengan drama Korea membuat saya makin lengket dan langsung mengiyakan tawaran jadi private tour guide Bu Ina selama di Seoul. Bu Ina dan suami mendarat di Korea Minggu pagi, di bawah guyuran hujan yang setia mampir di tanah Korea sejak semingguan ini...saya menjemput Bu Ina langsung di Incheon airport, dan dimulailah sejak hari itu perjalanan seru kami mengelilingi Seoul dan Nami Island...

Malamnya saya menemani Bu Ina tidur di President Hotel, salah satu hotel yang letaknya strategis di tengah2 City Hall, Seoul :) wah kapan lagi saya merasakan tidur di hotel di Seoul sebelum balik ke Indo?wkkk

Tuesday, July 30, 2013

#15 Day-39 Ketto Building

Hujan seharian. Petang menjelang buka. Sehari sebelumnya.

Saya, mba Maya, dan mba Lisa baru berjalan pulang dari Homeplus. Belanjaan memenuhi ruang di kedua telapak tangan saya. Di bawah guyuran hujan, saya teringat janji saya untuk segera mencari apartemen untuk orang tua saya nanti ketika mereka datang ke Korea.

Ketto Building adalah tipikal apartemen yang keuntungannya dekat dengan asrama saya, bersih, dan lapang, ...hanya dengan membayar 80000 won per hari saja...namun sayangnya no telp yang saya hubungi selalu tersambung dengan ahjussi yang sama sekali tidak mengerti bahasa inggris...jadilah saya mesti tergagap2 menjelaskan bahwa saya ingin memesan kamar...sayangnya hari itu saya tidak berkesempatan untuk bertemu dengan pemilik Ketto Building,,sehingga harus diundur jadi keesokan hari, Sabtu, pukul 11 pagi.

Hari ini, ternyata pemilik apartemen lagi2 harus membatalkan janjinya untuk bertemu karena anggota keluarganya meninggal..huff...lagi2 di tengah guyuran hujan saya kembali ke asrama. Janji baru kembali dibuat, Senin jam 11 siang.




Sunday, July 28, 2013

#14 Day - 40: Flood Flood in Dormitory!!

Suatu kehebohan yg tidak pernah terjadi sebelumnya hari ini tiba2 menjadi suatu fakta yang terelakkan dan menggemparkan seluruh penghuni asrama KIST B.

Hujan sudah mengguyur Seoul nyaris seminggu berturut2. Musim hujan telah tiba.

:Malam itu, mendekati waktu buka. Pukul 7.50 pm.

Dapur asrama kami sudah mulai dipenuhi serombongan orang-orang Mesir, Pakistan, India, dan kebanyakan kami sendiri, orang Indonesia asli. Saya baru memasuki dapur yang ribut, melihat mba May asik berkutat dengan percobaan kolak pisang pertamanya. Saya membantu memtong gula merah demi semangkok kolak gratisan untuk berbuka...dan nyaris semuanya berjalan normal kala itu. Hujan di luar masih kalah berisik dibandingkan dapur kami ketika mendekati waktu berbuka.

Akan tetapi...sesuatu yg luar biasa terjadi.
Untuk pertama kalinya sejak saya menjadi penghuni tetap asrama, langit2 asrama kami bocor.

BOCOR.

Tidak di satu tempat, tapi banyak. Dan anehnya, airnya mengalir turun, bukan menetes. Spontan lantai dapur kami sudah tergenang air di mana2. Hebohnya, kami baru saja berbuka dan yang bisa kami lakukan adalah memandangi air yang turun sambil menikmati kurma dan kolak yang sudah lama dinanti-nanti. Saya meraih ember yg biasa digunakan untuk mengepel lantai, tak lupa baskom kecil. Mba Lisa, salah satu teman Indonesia di dorm memanggil ahjussi penjaga asrama. Ruang TV di sebelah dapur juga jadi korban. Bocor dimana2. Saya masih polos kala itu, cuma duduk tenang sambil melanjutkan makan malam yang sedikit terganggu oleh cipratan2 air yang menetes tepat di sebelah kursi saya.Sya belum menyadari kenyataan aneh yang menggelitik:

Tapi kan, asrama kami itu gedung lantai 3, dan dapur jelas2 di lantai paling bawah. Bagaimana mungkin bisa bocor???

Ketika saya dan mba May beranjak menuju kamar kami di lantai 2 dengan perut yang sudah terisi penuh sesak, kami terperangah.

Lorong kamar kami di lantai 2 sudah layaknya seperti dalam adegan film tragedi kebanjiran...Air menggenang di mana2...untungnya tidak terlalu tinggi saat kami datang karena para ahjussi penjaga dorm sudah secara proaktif bergotong royong untuk menguras air yang ada. Ahjussi tua yang baik hati, salah satu yang paling kami kagumi, tampak tidak putus asa memindahkan air2 yg menggenang ke dalam tong besar untuk dibuang ke tempat yg semestinya. Saat itu masih sekitar jam 8 lewat...nampaknya tidak ada seorangpun yang ada di kamar kala itu...saya dan mba May, terkaget2, melangkah hati2 di antara genangan air yang datang dari kamar tepat di seberang kamar saya...ketika kami mengecek, ternyata sumber air bah ini berasal dari pipa pembuangan air yang pecah di beranda. Di beranda kamar yg bermasalah itu, ahjussi lain sibuk dengan ember kecilnya membuang air ke luar jendela...tapi air yg keluar dr pipa yang pecah tersebut tetap deras mengalir ke arah beranda.

Setelah salat Magrib, saya dan mba May secara sukarela terjun membantu ahjussi membersihkan genangan air yang masi setia mengendap di lorong kamar. Alhamdulillah air tidak sampai mencapai lantai kamar kami karena letaknya yang lebih tinggi dari lantai lorong.

Bagaimanapun juga, karena penanganan yang cepat, satu jam kemudian semua air yang ada sudah disedot dan dibuang keluar dengan pompa. Wahh...what an unforgettable memories!

::Siapa yang percaya jika banjir juga bisa terjadi di lantai 2, bukan lantai 1...wkkkk



Saturday, July 27, 2013

#13 Day - 41: Manuscript.Again.

Ini semua karena paper yang tertolak dan tertunda dari Spetember tahun kemarin.
Dan ironisnya, saya hanya punya waktu sebulan lagi untuk menuntaskan beban itu.

Hari ini tiba2 melihat postingan di email dan merusak seluruh jadwal seharian penuh.
Revisi revisi dan revisi.
Nasib menjadi assistant researcher :')

Tuesday, July 9, 2013

#12 Day - 42 Culcom Community


Thanks a lot to my dearest friends, Endah and Vania, I finally recognize Culcom community in Seoul, a part of free-Korean-lesson for foreigners...something that I really need before I go back to my home country...Almost 2 yrs here, I swear I learn not enough Korea than I expected...even though I watched Korean drama everyday, interact with Korean every time, also listen to K-pop via my Samsung galaxy...it is just NOT enough...*Sigh...

I am very weak in speaking hahahaha, either English or Korean!

Culcom cafe, located in very strategic place in Jongro 3 ga intersection
I was contacted by Ross, person in charge in this community...we made promise already at 12 pm in Culcom cafe, near exit 3 of Jongro 3-ga station...I was in a hurry because I should go to lab also...that day is the second day of Ramadhan...so I could not buy neither food or drinks...but I was so interested on the cafe itselves...lot of books...people with laptops, groups who seem to me as language-exchange group...and it has great view from second floor...

One of part-time worker there greeted me warmly...ask me in English, "Are you Muslim?"
"Yes"
Me - a bit surprised.
"Oo, I learn arabic in my college..."
"Oo really?"
"Ya..." he smiled.
Then I asked about Culcom community, he brought me to a young lady in the other corner.
"Please wait a moment" she said.
"Ne. kamsahabnida"
She surprised that my Korean pronunciation seems perfect.
"Aaa, Hanguko jal haneyo..."
"Aniyo" Me, feel ashamed. I am not good at all. Thats the fact :(

Then, the part-time guy offered me drink but I said that this is Ramadhan so muslim cannot eat and drink..He understand and we talked a little bit. He said he is taking course in Hanguk University of Foreign Studies...not really far from my institute...He will go to Egypt next month for internship and then Canada,,,ooo I envy him...His English is also great enough...I really wish my Korean can be like that :((((
Huhuhuu

Inside Culcom Cafe


I was then interviewed by another Korean guy and he promised to contact me again after finding person who can be my conversation partner...Personally, I really like their system and I recommended this to any foreigners in Seoul who eager to learn Korean seriously but in fun way :)

Thursday, July 4, 2013

#6 Day - 48 : Kyuhyun


Hari ini saya memutuskan untuk menulis lagi (still can't imagine)...

Berhubung kondisi saya yang sudah mulai stabil setelah 6 bulan lamanya berkutat dengan eksperimen yang kedodoran, paper jurnal, conference, sampe thesis yang mengharu-biru saya selesaikan akhir Juni kemarin...Saya akhirnya menyadari ini adalah hari-hari terakhir saya di Korea...hari-hari menikmati status saya sebagai mahasiswa dan tentunya status "pelarian" saya

hahahaha

Tidak terasa, hampir 9 tahun lamanya saya hidup merantau.

dan Korea, saya tidak pernah menyangka dalam sejarah hidup saya bahwa Korea akan menjadi bagian penting di dalamnya...

Cheers.
Well,then.

H-48 sebelum saya meninggalkan Korea.

Kenapa Korea?
.
.
.
.
.
.
.
Itu semua karena Kyuhyun :)
.
.
.
.
.
.
Saya penggemar berat Kyuhyun, Super Junior kala itu...di awal tahun 2011, saya benar2 terpukau oleh sosok dan suara Kyu. Saya koleksi semua lagunya di laptop saya, dan saya bermimpi, benar2 bermimpi kala itu, untuk bisa bertemu dengan Kyu, bagaimanapun caranya.

Saat itu di Indonesia Super Junior masi belum terlalu booming. Tidak ada pertanda mimpi saya akan kesampaian.

Dan Subhanallah.

Saya melamar S2 di Korea di awal April 2011, dan hanya dengan pertolongan Allah Swt,.... saya masi terpekur mengingat betapa mulusnya proses penerimaan saya di universitas saya yang sekarang.

Saya diterima. Saya menjadi warga resmi Seoul terhitung 25 Agustus 2011.
Saya memegang alien card Korea, dan saya (masi terheran-heran dengan keberuntungan saya) bisa mendapatkan tiket VIP untuk menonton musikal Kyuhyun "Catch me if you can" yang diselenggarakan oleh SM Town di Hangangjin, Seoul.




Tidak tanggung-tanggung, saya memesan tiket 1st class, saya duduk di baris ketujuh...dan saya waktu itu  (akhirnya) melihat langsung Kyuhyun dari dekat. 2 jam penuh. Harga tiket yang terbilang mahal bagi saya tidaklah mengapa mengingat karena Kyu oppa-lah saya membulatkan tekad untuk melanglang buana ke negaranya.


Well,hahaha...saya menyesal saya hanya punya kamera pocket kala itu, dan tangan saya bergetar karena terbawa antusiasme para ibu-ibu jepang yang duduk di sebelah saya...

But Kyu, a bunch of thanks toward you...

Itu adalah mimpi beberapa bulan yang lalu, dan Allah swt mengabulkannya begitu cepat, saya kadang sekarangpun masi tidak percaya (kkkk...)


Sekarang, setelah hampir dua tahun di Korea, kecintaan saya pada suara emas Kyu masi tersisa, walaupun tidak sampai separah beberapa waktu yang lalu...hehehe...di Korea ini, saya menemukan banyak "cinta" yang lain ;)

Entah kenapa, intinya adalah "lewat mimpi saya yang terbilang sepele, saya bisa mendapatkan sesuatu yang lebih besar."

Gelar S2 saya, Insya Allah sudah di depan mata.

Alhamdulillah.

Dan di awal Juli yang lembab dan banyak hujan ini, saya bertekad untuk mengejar "ketertinggalan" saya: 

Saya akan menulis "segalanya".

Suka dan duka selama di negara Kyuhyun oppa~



Salam hangat dari dalam kamar asrama!






Wednesday, August 15, 2012

#2 Korea

FirmanNya dalam Alquran:
Berjalanlah kamu di muka bumi...

dan Dia menyebut ttg hijrah.
Rasulullah juga harus berhijrah sebelum Islam menjadi besar, dan keluar sebagai the real rahmatan lil alamin.

saya jg, dengan penuh kepercayaan diri kala itu.
melamar beasiswa ke korea, tanpa bermodalkan ijazah (karena belum lulus)...
cuma waktu itu saya benar2 tergila-gila dengan negeri ginseng itu dan bermimpi untuk berhijrah kesana.

akhirnya pengumumannya keluar dan nama saya tercantum. saat itu saya sudah resmi lulus dr ITB walau belum resmi diwisuda. Saya bahagia luar biasa, saya memeluk ibu saya yg kebetulan sedang ada di dekat saya. Langsung berita itu tersiar ke keluarga di borneo. dan teman-teman saya di bandung ikut berbahagia dan mengucapkan selamat.

Toh akhirnya saya sudah di Korea. dan setahun berlalu sejak kejadian itu.
Saya berhijrah untuk ke sekian kalinya. sekarang jauh lebih berat karena saya berada di negeri orang, jauh berbeda dengan negeri kampung halaman saya.

Well, ini sudah menginjak tahun ke-9 sejak pertama kali saya melangkahkan kaki saya tuk merantau. Perjalanan pertama saya dimulai ketika umur saya baru 14 tahun, dan saya diterima untuk melajutkan SMA di bandung...

dan sekarang korea.

Banyak cerita yang akan saya bagikan tentang episode ini. Karena sejujurnya, saya berubah selam setahun ini. Hijrah ke Korea benar2 memulai babak baru dalam hidup saya.

Another my zero point.

Saya mengalami semua pahit manisnya hidup sebagai mahasiswa di Korea, lengkap dengan plus plusnya karena saya muslim.
dan saya memakai hijab.

saya akan berbagi dan terus bercerita.
semoga dapat memberi warna, dan hikmah tuk siapa saja yang membacanya.

Cheers.